🔊 TERKINI:
Memuat berita terkini…

Ekonomi Indonesia 2026 Diprediksi Tumbuh Agresif

Lintasnesia Media

Ekonomi

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto

Pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia menyatakan optimisme tinggi terhadap prospek ekonomi nasional pada tahun 2026. Sinergi kebijakan fiskal dan moneter, disertai penguatan investasi, diperkirakan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hingga menyentuh angka 6 persen.

Fondasi Pertumbuhan Mulai Terlihat

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa stabilitas ekonomi domestik sudah mulai menguat sejak akhir 2025. Salah satu indikatornya adalah konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga. Bahkan, Mandiri Spending Index (MSI) mencapai 312,8 pada November 2025.

“Indikator risiko untuk tahun 2026 telah termitigasi pada tahun ini,” ujar Airlangga dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di Jakarta, Jumat 2 Januari 2026.

Ia menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,4 persen, didorong realisasi investasi yang hingga September 2025 telah menembus Rp1.434 triliun.

Menurutnya, pandemi serta hambatan geopolitik global sudah mulai terkelola. Oleh karena itu, pemerintah kini fokus menjaga momentum investasi, termasuk melalui peran BPI Danantara.

Sinkronisasi Kebijakan Jadi Kunci

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pertumbuhan bahkan berpotensi menembus level 6 persen pada 2026. Menurutnya, tren stagnasi di angka 5 persen selama satu dekade terakhir dapat diakhiri melalui koordinasi kebijakan yang lebih solid.

“Kami terus menjalin komunikasi intensif dengan Gubernur Bank Sentral agar kebijakan fiskal dan moneter berjalan selaras,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah mengintensifkan sidang debottlenecking untuk mengurai hambatan di sektor usaha. Langkah ini mulai menarik minat investor asing, termasuk dari Singapura.

BI Siapkan Stimulus Moneter

Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 berada pada kisaran 4,9–5,7 persen, dengan peluang penguatan lanjutan di 2027.

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa kebijakan makroprudensial longgar akan dipertahankan guna mendorong kredit perbankan di kisaran 8–12 persen.

Selain itu, BI juga mempercepat pengembangan Rupiah Digital dan perluasan QRIS lintas negara sebagai pendorong ekonomi baru.

Dengan belanja negara yang telah mencapai Rp1.109 triliun hingga November 2025, pemerintah berharap daya beli masyarakat tetap kuat di tengah dinamika ekonomi global.