Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS pada awal perdagangan Selasa, 6 Januari 2026. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di Rp16.730 per dolar AS. Angka ini menguat tipis 0,03% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.735 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB naik 0,06% ke level 98,325. Sehari sebelumnya, DXY sempat melemah 0,16% meski menguat di awal sesi.
Sentimen Global Masih Jadi Faktor Utama
Pergerakan rupiah saat ini masih sangat dipengaruhi kondisi global. Pertama, dolar AS bergerak fluktuatif karena data ekonomi Amerika Serikat. Kedua, ketegangan geopolitik juga ikut menekan sentimen pasar.
Berita Terkait
Selain itu, dolar sempat melemah setelah Indeks Manufaktur ISM Desember turun ke 47,9. Angka ini menunjukkan kontraksi terdalam dalam 14 bulan terakhir. Oleh karena itu, pelaku pasar mulai khawatir terhadap sektor industri AS.
Namun, tekanan tersebut tidak berlangsung lama. Sebab, permintaan aset safe haven kembali meningkat di tengah ketidakpastian global. Di saat yang sama, sejumlah pejabat The Federal Reserve (The Fed) juga menyampaikan pandangan bernada hawkish.
Pasar Menunggu Arah Kebijakan The Fed
Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari menilai suku bunga kini sudah mendekati level netral. Lalu, Presiden The Fed Philadelphia Anna Paulson membuka peluang penyesuaian lanjutan jika inflasi bergerak sesuai ekspektasi.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang 16% untuk pemangkasan suku bunga 25 basis poin pada rapat FOMC 27–28 Januari 2026. Selain itu, pasar masih melihat potensi pemangkasan 50 basis poin sepanjang tahun 2026.
Rupiah Tetap Bergantung pada Pergerakan Dolar
Dengan kondisi tersebut, volatilitas dolar AS diperkirakan masih tinggi. Akibatnya, rupiah juga berisiko bergerak terbatas dalam jangka pendek.
Singkatnya, arah rupiah hari ini tetap bergantung pada data ekonomi AS, komentar pejabat The Fed, dan perkembangan geopolitik global.














